22 Desember 2016 | 08:11 wib | Asuh

Liburan Asyik Tanpa Panik

image

 

Agar terhindar dari berbagai risiko yang membuat panik, orang tua perlu mengedukasi anak sebelum liburan. Ajarkan anak bisa mengidentifikasi diri dan lingkungan.

Panik dan bingung, itulah yang dialami Deby, saat disadari  anak yang dikiranya Febian (7 th), anaknya,  ternyata anak lain. Untunglah, ditengah keributan dan kegelisahan yang dialami Deby dan anggota keluarga lainnya yang tengah berlibur di taman hiburan ternama di Jakarta,  terdengar dari pengeras suara pengumuman kalau Febian yang lepas dari keluarganya kini  tengah menunggu di ruang informasi. Diseburkan dengan jelas oleh petugas informasi, identitas  anak  dan  orang tua yang dimaksud. Yakin bahwa anak yang dimaksud adalah Febian anaknya, makaDeby bersama suaminya lantas bersegera  menuju ruang informasi untuk menjemput Febian.  Mendapati anaknya yang duduk tenang sambil maka kue pemberian petugas, Deby pun meras lega. Seolah tak peduli dengan kegelisahan yang dialami orang tuanya, Febian  yang terlihat  tanpa merasa bersalah,  bercerita.  ''Tadi aku lihat Badut dan ngikutin dia sampai jauh, Karena tidak tahu tempat mama dan papa, aku minta tolong pak Satpam untuk manggil mama dan papa,'' katanya  tenang.

Kejadian anak hilang memang kerap terjadi. Hal itu hanyalah salah satu resiko yang bisa dialami anak saat liburan. Banyak resiko lain yang kerap terjadi dan bisa mengacau liburan anak. Misalnya saja, sakit dan kecelakaan. Dua hal tersebut jelas menimbulkan rasa was-was, khususnya bagi orang tua.

Menurut Psikolog yang saat ini aktif di Sekolah Semesta Semarang, Nurina Anies MSi, agar liburan bisa berjalan dengan aman dan menyenangkan tanpa rasa was-was, orang tua perlu melakukan beberapa persiapan. Diantaranya, persiapan fisik dan non fisik. Yang dimaksud fisik yakni persiapan yang berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan anak. Misalnya, pakaian, makanan, obat-obatan dan sarana pendukung akomodasi. Sementara persiapan non fisik menyangkut tujuan wisata, edukasi tempat wisata,  persiapan waktu, dana, agenda acara dan tak lupa adalah tujuan wisata.

Menurut wanita yang akrab disapa Ririn ini, anak-anak perlu dilibatkan saat memutuskan tujuan wisata. Namun demikian, anak-anak juga diberi pengertian dan bisa menyesuaikan dengan kesibukan orang tua. ''Liburan yang menyenangkan bila anak-anak dan orang tua bisa total  melakukannya bersama. Tidak disarankan, saat liburan orang tua masih melakukan pekerjaanya,'' ucap ibu dua anak yang ramah ini.

Satu hal yang perlu diperhatikan para orang tua, anak-anak  berusia di bawah 7 tahun masih membutuhkan pendampingan dari orang tua atau pun pengasuh. Mereka belum bisa dilepas di tempat umum. Terlebih di area wisata yang beresiko tinggi seperti wahana air, tempat tinggi dan pusat keramaian yang membuat anak beresiko hilang. Beda halnya anak yang sudah lebih besar, 9 tahun ke atas, bisa diberi kelonggaran, meski tetap diberikan edukasi yang dibutuhkan agar bisa mengenali resiko dan cara mengatasi risiko tersebut. ''Misalnya kalau lepas dari orang tua anak diberi tahu agar mencari pusat informasi. Atau mencari petugas keamanan yang bisa membantu untuk mencarikan orang tuanya. Anak di atas usia itu paling tidak sudah bisa mengidentifikasi diri maupun lingkungannya,'' imbuh Ririn. 

Khusus bagi anak yang senang dengan permainan air baik di pantai atau pun di wahana permainan air, resikonya lebih tinggi dibandingkan dengan taman bermain lainya. Kerap terjadi anak tenggelam, tersetrum listrik atau bahkan meninggal setelah kepleset lantai kolam renang. ''Karena itu agar anak aman, mereka perlu dibekali dengan perlengkapan yang bisa meminimalisasi resiko. Misalnya, memakai sepatu anti slip, memakai krim anti panas matahari, atau bisa juga membawa obat-obatan agar tidak mudah masuk angin,'' kata Ririn.

 

Persiapan lain yang perlu dilalukan orang tua maupun anak-anak bisa liburan dengan enjoy, adalah memberikan bekal edukasi secukupnya kepada anak. Edukasi yang dimaksud bukan sekedar mengenali tujuan dan tentang hal-hal yang akan dijumpai atau dilakukan selama liburan tapi jauh lebih penting adalah edukasi tentang pengenalan identitas diri. Untuk anak yang sudah bisa berbicara setidaknya bisa menyebutkan nama diri dan orang tuanya .''Penting juga menghapal no telpon orang tua. Sehingga kalau sampai terjadi anak hilang atau lepas dari rombongan bisa segera mencari bantuan dan bisa segera diketemukan dengan orang tuanya,'' tandas Ririn. 

(esty valentina)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com