13 Februari 2017 | 14:02 wib | Asuh

Melatih Anak Senang Bertanam

image

 

Musim hujan merupakan saat tepat untuk menanam.  Ajari anak mencintai lingkungan dengan berlatih menanam sayur dan tumbuhan lainnya.

 

Tidak seperti bisanya, pagi itu Kevin lansung berjalan ke halaman. Dengan antusias ia menengok tanaman rambutan yang kemarin sore di tanam bersama ayahnya. Selanjutnya ia pun mengambil ember kecil dan dengan gembira berkata kalau tanaman rambutan yang ditanamnya hidup. Ia pun berceloteh kelak kalau sudah besar dan berbuah  akan dijual untuk beli sepeda. ''Ma, nanti rambutannya kita jual ya,'' katanya.  Menanggapi hal itu mamanya pun mengangguk menyetujui. ''Nanti uangnya bisa untuk beli sepeda ya Ma,'' kata Kevin berharap senang.

Percakapan antara Kevin dan mamanya  sekilas mungkin omong kosong belaka. Namun jangan salah, keinginan Kevin yang tahun ini kelas I SD  merupakan ungkapan keberhasilan orang tua mengajarkan manfaat ekonomi dari bertanam. Seperti dikatakan Psikolog ternama di Semarang, Hastaning Saksi, selain diajarkan   menanam dan merawat tanaman, anak juga diberi pengalaman berjualan atau mengambil manfaat dari tanaman yang dia tanam. ''Cara ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan orang tua mengajarkan anak senang bertanam,'' katanya kepada Cempaka.

Mengenalkan anak senang berkebun atau menanam memang bukan perkara mudah. Apalagi di saat sekarang ini dimana banyak orang tua, khususnya yang tinggal di perkotaan yang sudah jarang melakukan aktivitas menanam atau berkebun. Bukan saja karena lahan yang tersedia sudah tidak ada atau sangat sempit, namun juga karena faktor budaya. Banyak ibu-ibu, khususnya, yang cenderung lebih suka membeli sayuran dan buah di warung atau supermarket daripada menanam sendiri di pekarangan rumah.

Padahal sebenarnya, lahan sempit bukanlah alasan bagi orang tua untuk tidak mengajarkan anak mencintai lingkungan dengan belajar menanam. Tanaman, terlepas dari jenis dan cara menanamnya, bisa tumbuh subur meski dalam lahan sempit, atau bahkan dalam pot dan bahkan secara hydroponik sekalipun. Karena itu, tidak ada cara lain mengajarkan anak mencintai lingkungan dengan menanam kecuali dengan melakukan sendiri di rumah.

Di era dimana global warming menjadi masalah, maka mengajar anak untuk mencintai alam adalah sangat penting. Tentu kita ingin anak kita menjadi individu yang peduli lingkungan. Dengan kemampuan bertanam, maka kita membekali anak kita dengan pengetahuan untuk membuat dunia yang lebih hijau dan bekelanjutan.

Pada umumnya anak-anak senang bermain dengan tanah. Entah dengan diaduk-aduk atau disiram, atau berlompatan di atas lumpur. Aktif mereka dapat kita arahkan dengan menanam sayuran, rempah atau bunga-bunga yang cantik menghiasi taman atau teras rumah.

Banyak hal yang bisa diajarkan anak dengan menanam. Salah satunya adalah belajar bertanggungjawab. Anak akan cepat mengerti bahwa tanaman sama seperti kita, mereka perlu air apabila haus, dan pupuk apabila lapar. Juga tentunya sinar matahari yang cukup. Tanaman juga perlu perhatian, jadi sesekali kita harus liat tanaman kita, dan apabila ada yang kering, harus cepat dicabut, atau apabila ada yang terlihat sakit, harus cepat ditanggulangi dengan diberi obat natural misalnya. Karena itulah, dengan memberi tanggungjawab kepada anak tentang tanaman yang ditanamanya bisa melatih tanggung jawab.

Berikan kepercayaan kepada mereka bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pohon yang mereka tanam. Ingat dengan lebih dulu memberi pengarahan tentang cara merawat tanaman tersebut. Anak dapat merasa lebih memiliki dan mencintai tumbuhan yang mereka tanam. Dalam poin ini, selain mengajarkan cinta lingkungan, kita juga mengajarkan anak-anak tentang disiplin dan tanggung jawab.

 

Cara yang menyenangkan

Mengajak anak memilih jenis tanaman yang ditaman juga bisa mengajarkan anak memiliki rasa percaya diri. Menanam pohon dengan anak-anak akan lebih menarik jika mereka dibebaskan memilih tanaman yang akan mereka tanam dan diizinkan memilih, Mereka pasti akan memilih tanaman sesuai selera mereka, dan kecintaan mereka dengan tanaman itu pasti lebih tinggi dibandingkan jika tanaman yang akan mereka tanam dipilihkan oleh orang lain, bukan? Bebaskan pula kreativitas dan imajinasi mereka ketika menggambar pot dari pohon yang mereka tanam. Saat mereka berbangga diri, pujilah! Ketika dipuji, anak akan mengerti bahwa menanam adalah hal yang baik dan membanggakan, lalu mereka pun akan lebih menyayangi dan merawat tanamannya.

Selain itu, ajarkan anak bahwa  manfaat penting dari tumbuhan. Tidak perlu memaparkan terlalu teoritis bagaimana tumbuhan bisa menciptakan oksigin. Gunakan bahasa yangs sederhana dan sesuaikan dengan pemahaman mereka. Penjelasan yang ilmiah belum tentu anak-anak dapat mengerti. Cukup dengan menjelaskan bahwa manusia membutuhkan banyak oksigen untuk dihirup supaya bisa hidup. Tumbuhan yang mensintesis gas lain, yaitu karbon dioksida, menjadi oksigen agar manusia tidak lenyap. Untuk berterima kasih kepada tanaman maka kita harus melestarikan hayati tanaman dengan cara menanam berbagai tumbuhan di sekitar kita.

Dalam mengajarkan anak menanam dan mencintai tanaman, dikatakan Hastaning Sakti, harus dilakuklan dengan cara yang menyenangkan. Gunakan pola bermain sebagaimana dunia anak-anak. Yang utama,. anak dapat lebih mencintai bumi dengan cara mereka sendiri dan mereka dapat lebih bertanggung jawab. Mereka pun akan terbiasa cinta lingkungan dan mengaplikasikannya hingga besar nanti.  Ciptakan kesan bahwa menanam bukan hal yang membosankan melainkan menyenangkan dan banyak memberi manfaat.  

 

 

(esty valentina)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com