29 Mei 2017 | 15:19 wib | Prospek

Laku Keras Sambal Pedas

image

 

 

 

Kebiasaan makan dengan sambal menginspirasi Trisila Juwantara dan Miftahudin memproduksi sambal instan. Permintaan banyak khususnya para penjual warung kaki lima.

 

Banyak sekali jenis makanan yang lebih enak bila disajikan dan dimakan dengan sambal. Olahan dan menu sambal pun bervariasi. Bahkan tak sedikit warung atau restoran yang menjadikan menu sambal sebagai daya tariknya. Sebut saja, sambal terasi, sambal tomat, sambal matah, sambal dabu-dabu, sambal mangga dan masih banyak lagi lainnya. Biasanya sambal-sambal tersebut disajiakan sesaat setelah dibuat.

Kebutuhan sambal sebagai penyanding aneka hidangan, misalnya ayam goreng, seafood goreng/bakar, bakso, dan rendang sangatlah besar. Peluang inilah yang ditangkap Trisila Juwantara dan Miftahudin menjalankan usaha produksi sambal instan. Kedua pria ini berpendapat, jika tersedia sambal instan maka masyarakat termasuk para penjual ayam goreng, bebek atau seafood goreng/bakar tak perlu repot lagi membuat sambal. Mereka bisa segera menyajikan dagangannya atau bisa segera menikmati makanan kesukaannya tanpa mesti membuat sambal terlebih dulu.

Meski disebut sambal instan, produk sambal ini tidak sama dengan sambal instan seperti yang banyak beredar di pasaran selama ini. Sambal buatan dua pria ini dikemas dalam plastik transparan masing-masing dengan bobot 240 gram dan 1/2 kilogram.  Cara pembuatannya pun manual sebagaimana membuat sambal biasa atau non pabrikan.

Miftahudin mengatakan bila ingin menyajikan sambal ini, tinggal menyobek plastik pembungkus sambal untuk ditaruh dalam tempat sambal atau mangkuk kecil. Sambal pun siap dinikmati. ''Sambal sengaja dibungkus dalam plastik transparan agar kelihatan sambal aslinya,'' katanya.

Dirinya berinisiatif membuat sambal instan selain untuk mendongkrak harga cabe yang sewaktu-waktu bisa turun drastis dan di saat lain naik tajam, juga dalam rangka memudahkan penjual ayam, bebek dan seafood goreng/bakar. Karena kadang saking banyaknya pelanggan, penjual kaki lima itu, sampai kedodoran saat harus menyediakan sambal.

Menurutnya, jika seseorang, khususnya penjual sudah memiliki persediaan sambal instan buatan mereka, para penjual ayam, bebek dan seafood goreng/bakar serta penjual makanan sejenis, tinggal menuangkan sambal tersebut tanpa mesti respot membuat sambal yang  tak jarang membutuhkan waktu agak lama sementara banyak pembeli yang sudah tidak sabar menunggu.

Lalu bagaimana soal rasa dan tampilannya? Dikatakan Miftahudin, rasa sambal instan tidak tak jauh beda dengan sambal yang dibuat secara manual.  Karena bahan utama yakni  lombok sengaja dipilih yang benar-benar segar dan sudah tua.  Bahkan karena komposisi cabe yang banyak, sambal lombok ijo ini punya rasa pedas yang super. Namun jangan kuatir bila yang tidak kuat dengan rasa pedas, cukup memakai dalam jumlah sedikit.

 

Komposisi

 

Sambal intan ini diberi label Sambal Lombok Ijo, Reka Rasa. Tempat produksi di Jl Dieng Km 3,5 Munggang Atas Krasak Mojotengah Wonosobo. Sangat mudah menuju tempat ini karena berada di jalur menuju kawasan wisata Dieng.

Sambal lombok ijo ini dibuat dengan komposisi cabai hijau, bawang putih, minyak dan penyedap rasa. Semua bahan baku utama berupa cabai hijau didapat dari wilayah Wonosobo. Lombok tersebut dibeli dari petani yang baru saja panen dari sawah. "Jadi lomboknya masih benar-benar segar dan tua", ucap Miftahudin.

Sebelum diolah, cabe hijau diambil gagangnya atau dipritili dari tangkainya sembari disortir untuk mendapatkan cabe hijau yang benar-benar berkualitas bagus. Setelah itu, cabe lalu dibersihkan dengan air untuk menghilangkan kotoran yang menempel di kulit cabe.

Proses pembuatan, cabe  dimasukan dalam blender bersama dengan  bawang putih, garam dan penyedap rasa. Bila sudah halus dan tercampur rata lalu dikeluarkan dan selanjutnya digoreng dalam minyak panas.

Begitu rampung digoreng, sambal yang sudah jadi itu, ditiriskan sebentar agar tuntas dari minyak goreng. Selanjutnya, sambal siap dikemas dalam plastik transparan sebelum dipasarkan. Seperti yang dijadikan inspirasi sejak awal, target pemasaran sambal ini adalah pedagang ayam, bebek, seafood bakar/goreng.

Meski dibuat tanpa bahan pengawet, sambal ini dikatakan Miftahudin  bisa bertahan hingga dua bulan. Agar awet penyimpanannya jangan sampai terkena sinar matahari langsung. Jika kemasan plastik sudah dibuka sementara sambal masih tersisa sebaiknya disimpan di lemari es atau kulkas. Selanjutnya agar lebih segar bisa dipanaskan sebentar sebelum disajikan.

Sambal yang dalam satu kemasan 1/2 kiogram dijual di Rp 30 ribu itu, sementara ini selain dipasarkan di daerah Wonosobo, juga sudah disebarkan diberbagai penjual ayam, bebek dan seafood di berbagai kota di Jawa Tengah. "Sementara ini permintaan sambal instan Lombok Ijo, cukup tinggi", tegasnya.

Dalam sehari, pihaknya mampu mengolah puluhan kilogram cabe. Omset yang didapat pun sudah mencapai puluhan juta per bulan dengan perhitungan untung relatif besar. Satu hal yang menjadi kendala adalah ketersediaan bakan baku yang kadang tidak tercukupi. ''Bahan baku lombok hijau baru langka ketika petani sedang tidak panen raya cabe,'' tandasnya. 

 

 

 

(muharno zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com