05 April 2013 | 21:40 wib | Serambi Prie GS

Kutukan Buru-Buru

image

BURU-buru itu nyaris menyerupai kutukan. Sebab tanpa diburu-buru sekalipun, manusia selalu merasa terburu-buru. Saya sendiri pasti juga terkena kutuk itu. Kutukan ini sangat terasa begitu saya hendak pergi. Pagi hendak pergi, malam, rasa buru-buru itu telah di hati.

Saat pagi datang, tensi itu meninggi. Minuman dan sarapan yang dipersiapkan secara buru-buru itupun disantap juga dengan cara buru-buru. Saking terburu-buru, bahkan cuma minuman saja yang sempat ditenggak, itupun dengan cara yang juga buru-buru. Sambil terburu seperti itu saya biasanya juga membuat sekitar saya buru-buru: anak-anak, istri, sopir, pembantu, semua ikut saya buru. Di jalanan, kalau itu harus mengejar pesawat, semua pemakai jalan juga saya buru-buru. Sepeda motor yang jalan terlalu pelan, lampu merah yang terlalu lama, semua ikut saya persalahkan.

Semula saya menyangka ini sebuah kewajaran. Maklum keadaan hendak bepergian. Tetapi persangkaan saya ini keliru, karena saat saya di rumah seharian, dan boleh hanya dipakai untuk tiduran karena memang tak ada kegiatan, saya gelisah sekali. Ini aneh. Rasanya banyak hal belum saya kerjakan dan saya bak diserang semacam perasaan berhutang.

Saya teringat ikan di kolam yang harus diberi makan, kandang burung yang harus dibersihkan, ada buku yang belum terbaca, teringat pula ada tanggungan menulis kolom untuk koran. Benar, soal-soal itu harus dikerjakan. Tapi tidak semuanya harus di hari itu, dan tidak pula harus buru-buru karena masih sangat cukup waktu dan juga tidak ada yang memburu. Tapi seluruh alasan penenteram itu tidak cukup membuat saya tenteram. Pada saat saya mestinya bisa rileks seharian itulah saya malah tegang seharian. Sejak itulah saya mulai merasa bahwa rasa buru-buru memang serupa kutukan. Ia tidak berada di dalan kenyataan, tetapi berada di dalam pikiran. Kenyataan itu sedang tenang-tenang saja tapi pikiran kitalah yang penuh kekeruhan.

Begitu serius sebetulnya rasa buru-buru itu sehingga ia sering tampil sebagai majikan bagi hidup kita. Perang melawan rasa buru-buru harus dikibarkan karena manusia terancam kehilangan salah satu harta terbaiknya: ketenangan. Apalagi, rasa buru-buru itu bisa menyelinap di balik apa saja, di balik memburu harta, karier, popularitas dan kekuasaan. Betapa banyak jebakan rasa buru-buru karena pihak yang terburu adalah pihak yang terancam lupa pada proses dan tahapan.  Dan manusia yang mengabaikan tahapan akan jauh dari tujuan. 

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com