13 Februari 2015 | 14:59 wib | Sehat

Nyeri Leher Beda Dengan Tengeng!

image

 

 

Rasa nyeri seringkali dianggap sebagai hal yang biasa karena seringkali bisa sembuh dengan sendirinya. 

 

RASA nyeri bisa menyerang bagian tubuh manapun, termasuk  nyeri pada leher yang sering membuat aktivitas  menjadi terganggu. Namun, nyeri leher sering diabaikan oleh penderitanya. Padahal nyeri leher yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Leher sendiri pada dasarnya memiliki tugas yang berat yaitu mempertahankan posisi kepala agar tetap tegak. Terdiri dari tulang dan bagian lunak, seperti otot, ligamen dan saraf. Tulang belakang bagian leher memiliki fungsi pergerakan dan penopang berat kepala. Tidak seperti pada tulang belakang bagian lain, bagian leher tidak dilindungi oleh tulang lain sehingga rentan terhadap cidera yang menimbulkan rasa sakit dan membatasi pergerakan.

Dihubungi di sela-sela kesibukannya,  dokter spesialis saraf, dr. Herlina Suryawati Sp.S menjelaskan nyeri pada leher dapat berasal dari daerah di dekat leher, seperti rahang, kepala dan bahu. Sebaliknya, problem di leher juga dapat menyebabkan bagian tubuh yang lain mengalami nyeri, seperti punggung atas, bahu atau lengan. Jika saraf juga ikut terlibat dalam gejala nyeri pada leher, penderita akan merasakan kebal (kebas), kesemutan, atau kelemahan di lengan atau tungkai.

''Posisi saat bekerja dengan banyak duduk di depan komputer atau posisi kerja dengan posisi duduk kurang benar seperti melengkung ke meja akan membuat tugas leher menjadi semakin berat. Kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan sumber terjadinya gangguan nyeri dan rasa sakit pada anggota badan bagian atas, khususnya leher,'' kata Herlina.

 

Berbeda dengan Tengeng

Sakit pada leher (tengeng) seringkali dikeluhkan oleh banyak orang akibat salah dalam posisi tidur, sehingga otot mengalami kontraksi atau pemendekan dalam waktu lama dan terus-menerus. Otot pun akan mengalami spasme (kaku) yang mungkin terjadi bila tidur tanpa berubah posisi kurang lebih selama dua jam. 

''Orang normal yang tidur miring, secara otomatis akan mengubah posisi setiap sekitar dua jam. Tetapi jika orang itu dalam keadaan capek, pergerakan posisi baru dilakukan setiap empat jam sekali. Akhirnya ketika bangun tiba-tiba leher sangat sakit saat  hendak menoleh ke kanan maupun ke kiri atau dalam bahasa medis disebut dengan tortikolis,'' ujarnya.

Nyeri leher berbeda dengan tengeng. Nyeri leher yang terjadi pada leher bagian belakang banyak penyebabnya, terjadi melalui proses yang lama kemudian merasakan sakit yang memuncak sebagai akibat dari aktivitas yang membuat leher lelah. Sedangkan tengeng paling sering terjadi akibat posisi tidur yang salah, yang biasanya mengakibatkan kesulitan menoleh ke kiri atau ke kanan, dan itu terjadi biasanya dalam waktu beberapa hari saja.

''Kondisi tengeng sering disalah artikan masyarakat kita sebagai nyeri leher, karena itu, nyeri leher seringkali dianggap sebagai kejadian biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal antara nyeri leher dan tengeng sangat berbeda,'' kata Herlina.

 

Cermati Gejalanya

Tak sekadar nyeri, ujar dokter sekaligus staf bagian neurologi RS dr.Kariadi Semarang ini ada beberapa gejala yang bisa dirasakan. Di antaranya nyeri atau kaku pada leher atau tengkuk atau sekitar pundak. Pusing atau sakit kepala. Nyeri yang dirasakan terus-menerus atau hilang timbul, Nyeri menjalar atau kesemutan ke daerah lengan sampai tangan, nyeri pegal atau tajam (seperti ditusuk jarum) pada bagian leher atau pundak atas serta nyeri saat menggerakkan leher, seperti menunduk, menengok atau menengadah.

 

Gejala Dari Penyakit Lain

Dosen FK Undip ini mengungkapkan rasa sakit kronis biasanya merupakan gejala dari gangguan kesehatan yang mendasari. Beberapa penyebab umum seperti infeksi, tumor dan kelainan bawaan tulang belakang. Pada beberapa orang, adanya masalah tulang belakang bagian leher menimbulkan rasa sakit di punggung atas, bahu dan lengan. Pada penyakit kantung empedu juga dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan leher sebelah kanan pada penderitanya.  Kondisi ini juga sering didapat penderita menginitis. Menginitis adalah peradangan pada selaput tipis yang mengelilingi  otak dan sumsum tulang belakang. Gejala khas pada penyakit ini yaitu leher kaku, rasa nyeri disertai dengan demam dan rasa sakit kepala parah.

''Oleh karena itu, perhatikan gejala lain yang menyertai nyeri leher. Bisa jadi rasa nyeri tersebut merupakan manifestasi dari penyakit yang lebih parah,'' ungkap dokter yang hobi traveling ini

 

Segera Lakukan Perawatan Medis

Jika nyeri leher timbul setelah cidera parah yang terjadi seperti kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan menyelam atau jatuh, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis. Perawatan medis juga harus segera dilakukan apabila sakit leher menyebar ke lengan dan kaki, sedangkan mati rasa atau gebas di lengan atau kaki tanpa sakit leher juga harus dievaluasi.

''Jika tidak ada riwayat cidera, para pasien juga harus waspada ketika sakit leher itu terjadi berulang, semakin  parah, disertai rasa sakit yang menyebar ke lengan atau kaki. Bahkan jika disertai oleh sakit kepala, kesemutan, atau kelemahan. Pertolongan medis harus segera dilakukan agar tidak semakin parah,'' kata Herlina. Nyeri leher akut yang dibiarkan bisa menjadi kronis. Sakit leher kronis dapat menyebabkan penurunan kondisi, otot kaku, kontraktur (leher bengkok), dan kekakuan. Akan ada penurunan gerakan leher, bahkan mungkin membengkokkan tubuh.

 

Beragam Tes 

Beberapa jenis tes yang bisa dilakukan untuk menegakkan diagnosis nyeri leher kronis, antara lain, X-ray 

(tes yang memanfaatkan radiasi untuk membuat gambar yang digunakan untuk melihat kondisi tulang leher), MRI scan (tes yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk membuat gambar untuk melihat tulang belakang dan sarafnya), CT scan (salah satu jenis X-ray yang menggunakan komputer untuk membuat gambar untuk melihat tulang belakang dan tulang leher lebih jelas, electromyography (tes untuk mengukur seberapa baik fungsi saraf dan otot), dan Myelography (termasuk jenis pemeriksan X-ray yang menggunakan kontras untuk melihat tulang belakang dan sarafnya).

 

Pengobatan Nyeri Leher

 Pengobatan non infasif

Dengan memberikan obat-obatan (medikamentosa). Pada umumnya berupa obat-obatan anti radang dan atau anti nyeri yang akan diberikan untuk menghilangkan rasa sakit. Hal ini akan efektif untuk menyembuhkan nyeri bila kelainannya bersifat ringan. Namun, jika kelainannya berat maka obat-obatan tersebut hanya bersifat sementara dan bahkan tidak efektif sama sekali.

 

 Fisioterapi

Pengobatan akan dilakukan dengan terapi hangat menggunakan sinar infra merah atau diatermi atau terapi latihan dengan tujuan memperkuat otot-otot tulang leher sehingga susunan tulang leher bertambah stabil dan tak mudah goyang yang dapat mengakibatkan leher akan bertambah sakit.

 

Pengobatan invasif

Saat ini banyak metode pengobatan dengan terapi minimal invasif untuk mengatasi masalah nyeri leher. Salah satunya dengan pengobatan radio frekuensi yang ditujukan pada saraf yang mempersarafi sendi tulang belakang, sehingga sakit yang bersumber dari sendi tersebut tidak dapat dihantarkan ke otak sehingga rasa sakit menghilang. Terapi ini cukup efektif bila diagnosanya tepat.

 

 

(pitra)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com