29 April 2016 | 13:36 wib | Herbal

Daun Basil, Bumbu Dapur Kaya Manfaat

image

 

Tanaman asal India ini bermanfaat untuk mengatasi problem pencernaan, insomnia, antiseptik dan tonik.

Daun basil sering sekali kita temui pada masakan italia seperti pasta atau pizza. Para ibu juga dapat menemukannya dengan mudah di berbagai supermarket besar sekarang ini. Daun yang bentuknya mirip daun kemangi ini memang umumnya berfungsi sebagai bumbu masakan untuk menambah kesedapan rasa. Namun, ternyata daun basil juga berfungsi baik bagi kesehatan.

Di India, basil telah dikenal dalam pengobatan kuno yang tertuang dalam kitab ayuvreda. Basil bahkan juga ternama di kitab pengobatan kuno Cina.

Basil pada masa itu digunakan untuk mengobati pilek, sakit kepala, keluhan lambung, peradangan, penyakit jantung, keracunan, dan malaria. Basil digunakan dalam masakan dan dikonsumsi sebagai daun segar untuk lalapan, teh herbal, bubuk kering, atau campuran ramuan obat.

Terdapat dua jenis utama basil yaitu, Ocimum basilicum (basil manis) yang menjadi bahan makanan pada masakan Italia dan Asia, dan Ocimum sanctum (basil suci) yang merupakan basil suci dalam agama hindu.

Basil adalah sumber yang baik dari vitamin K dan mangan. Selain itu, basil juga mengandung tembaga, vitamin A (dalam bentuk karotenoid seperti beta-karoten), vitamin C kalsium,zat besi, folat, magnesium, dan asam lemak omega-3.

Basil juga mengandung antioksidan flavonoid, tanin, dan minyak esensial. Kandungan minyak esensial dalam basil terdiri atas eugenol dan metil eugenol (hingga 64%), alpha dan beta-caryophyllene, carvacrol, linalool, germacrene A, beta-ocimene, dan cinnamyl asetat. Zat lainnya termasuk asam oleanolic, asam rosmarinic, asam ursolat, apigenins, luteolins, serebrosida, dan acimumosides.

Kaya Manfaat

Ada beberapa khasiat yang bisa didapat dari tumbuhan satu ini. Di antaranya, Basil mengandung flavonoid yang dapat memberikan perlindungan pada tingkat sel. Orientin dan vicenin adalah dua flavonoid yang dapat melindungi struktur sel serta kromosom dari radiasi dan kerusakan dari zat yang berbasis oksigen. Karena hal inilah basil sangat bermanfaat untuk melinduingi DNA.

Selain itu, basil telah terbukti memberikan perlindungan terhadap pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan. Manfaat basil sebagai anti-bakteri ini tidak berkaitan dengan flavonoid melainkan minyak atsiri yaitu estragole, linalool, cineole, eugenol, sabinene, mircene, dan limonene. Penelitian di laboratorium juga menunjukkan efektivitas basil dalam membatasi pertumbuhan berbagai bakteri.

Komponen eugenol minyak atsiri basil telah menjadi subjek penelitian yang luas, karena zat ini dapat memblokir aktivitas enzim dalam tubuh yang disebut siklooksigenase (COX). Efeknya bisa digunakan sebagai anti-inflamasi yang dapat memberikan manfaat penyembuhan dan menghilangkan gejala rheumatoid arthritis atau kondisi peradangan usus.

Meskipun basil aman dikonsumsi sebagai makanan ataupun obat dalam jangka pendek. Namun pada beberapa kasus, basil juga memiliki efek samping seperti menurunkan gula darah. Sehingga penggunaan tanaman ini harus di bawah pengawasan medis atau ahli herbal. 

(pitra)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com