04 April 2013 | 18:57 wib | Bingkai

Mulai ''Ditinggalkan'' Anak

image

SEPERTI orang tua lain, Minati Atmanegara, yang memiliki anak sudah dewasa, mulai merasa menjadi sahabat bagi kedua buah hati hasil pernikahan dengan Alexander Felder. Ya, Cakra Crisandi dan Cantika Ramona, kini memang bukan anak kecil lagi. Mereka sudah punya aktivitas, kesibukan, dan dunia sendiri. ''Orang tua harus bisa menerima kenyataan bahwa suatu saat anak-anaknya punya kehidupan sendiri. Namun seiring dengan pertumbuhan mereka saat ini, sebisa mungkin saya berperan sebagai sahabat mereka,'' kata perempuan yang memopulerkan body language itu.

Perempuan kelahiran Berlin Barat, Jerman, 2 Maret 1959, itu bercerita, meski tak bisa merasakan kebersamaan dengan anak-anak seperti saat mereka kecil, dia tak merasa kehilangan berlebihan. Karena dia menerima semua dengan ikhlas. "Karena saya selalu berperan sebagai sahabat bagi anak-anak. Cantika masih minta ditemani ke mana-mana, meski sudah gede. Cakra juga sering curhat. Yang penting bagi saya, biarkan anak berkembang dan menemukan diri. Tugas orang tua mengarahkan, menjaga, dan mengawasi agar anak tidak ke luar rel. Jangan sampai mengekang kebebasan anak,'' kata bintang layar lebar Lara Jonggrang (1983), Hati yang Perawan (1984), dan Apa Arti Cinta (2005) itu.  Yang terpenting bagi dia, anak-anak tetap menghormati dan membutuhkan orang tua.

 

Mengenal Cinta

Melihat anaknya sudah tumbuh dewasa, Minati Atmanegara tak pernah melarang Cantika Ramona mencari cinta. Bagaimana tidak? Sifat Cantika yang selalu terbuka kepada sang bunda membuat Minati percaya. "Terbuka sekali. Jadi nggak masalah karena sudah waktunya. Sudah umur. Asal memang sesuai dengan usia di bawah pengawasan orang tua yang ketat. Intinya apa pun itu asal positif, oke, boleh. Namun ada aturannya," ujar Minati.

Cantika yang tak lama lagi menyelesaikan kuliah itu juga selalu mengenalkan sang pacar bundanya. Adik Chintami Atmanegara itu membebaskan kedua anaknya memilih teman dan pacar. Soal pacaran Minati setuju, tetapi kalau menikah nanti dulu. Dia ingin putrinya menyelesaikan pendidikan dan tidak buru-buru nikah muda.

"Nikah entar dulu. Kalau udah mandiri. Pasti nggak usah dibawelin lagi. Terlalu dini ya masih 22 tahun. Untuk zaman sekarang kayaknya rugi banget menikah terlalu muda," tutur Minati.

Berbicara mengenai ibu dan anak itu tidak ada habisnya. Perempuan memiliki naluri kuat untuk belanja. Itu pula yang melanda ibu dan anak, Minati Atmanegara dan Cantika Atmanegara. Kadang malah saling ajak berbelanja. Kompak.

"Kami memang sering jalan bareng. Apalagi kalau belanja. Selera dalam belanja pun hampir sama. Jadi nggak tahu siapa yang nggak tahu diri," ujarnya seraya tertawa, diikuti Cantika.

Dia menuturkan dalam soal berbelanja tak bisa ditentukan siapa mengajak siapa. Sebab, semua tergantung pada siapa yang membutuhkan sesuatu untuk dibeli.

"Tergantung, dari kebutuhan siapa. Kalau saya ada perlu, saya yang mengajak. Begitu sebaliknya. Biasanya juga kami puterin dulu mal, baru putuskan barang yang bakal kami beli," katanya.

Walau selera belanja hampir sama, soal aturan main dalam keluarga tetap dijaga. Semisal Cantika harus memberi tahu dengan siapa akan pergi bila sampai pulang malam. "Sebetulnya nggak ada batasan waktu jika pulang malam. Asal saya tahu ke mana dan dengan siapa dia pergi. Jadi nggak seperti waktu 17 tahun. Karena kadang ada acara yang mulai pukul 21:00 atau 22:00. Saya pun lihat kalau ke tempat yang ramai dengan teman nggak jadi masalah," ujarnya.

 

Selalu Bangga pada Anaknya

MINATI bahagia karena anak-anaknya berkembang sesuai dengan harapan. Dia menuturkan kemampuan anak tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal. Ada sisi lain dari yang perlu dikembangkan, yaitu bakat.  Berangkat dari kesadaran itulah, dulu, saat anak masih balita, Minati sudah memasukkan mereka ke pendidikan nonformal. Cakra, misalnya, diikutkan les dram dan Cantika kursus tari. ''Kebetulan mereka berdua menyukai bidang masing-masing,'' ujar wanita berwajah oval itu.

Meski mengizinkan anak bungsunya berkarier di dunia hiburan, Minati tetap menerapkan aturan. ''Saya nggak mau sekolahnya terbengkalai,'' ujar Minati.

Dia juga berpesan kepada anak gadisnya, selain harus bersungguh-sungguh, harus melakukan semua pekerjaan dengan hati, tanpa paksaan. "Saya tak mengarahkan Cantika agar menjadi seperti saya. Biarpun Cantika anak saya, saya hanya berpesan agar dia berakting dari hati dengan niat tulus," kata Minati.

Dari semua bentuk dorongan yang diberikan, ujar Minati, kuncinya adalah memberikan kepercayaan kepada anak dan selalu berkomunikasi secara aktif. ''Sebagai orang tua, kita harus bisa jadi pendengar. Jangan hanya omelan kita yang mau didengar anak. Dengan mendengarkan anak, kita tahu permasalahan mereka hadapi. Kita juga tahu apa yang ada di pikiran mereka,'' ujarnya. 

Minati berusaha membuka waktu sebanyak-banyaknya untuk berkomunikasi dan bercengkerama dengan anak. ''Saya tak pernah mencari hiburan buat diri sendiri. Selalu waktu luang untuk anak dan ingin selalu bersama anak,'' ujarnya. 

Dalam dunia pergaulan zaman sekarang, Minati selalu mewanti-wanti Cantika agar menjaga pergaulan sehingga tak kebablasan. ''Dan yang paling penting, saya menanamkan pendidikan agama dan moral kepada anak-anak,'' kata perempuan yang melarang anak bungsunya kuliah di luar negeri itu. 

(Pitra Kurniawan)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com