21 Juli 2016 | 13:00 wib | Singkap

Antara Jodoh dan Imajinasi Acha Septriasa

image

Usai putus dari Dito, Acha Septriasa belum juga punya gandengan baru. Namun bintang film Mimpi Ananda Raih Semesta ini mengaku berjodoh dengan Bangkit.

 

Pengalaman baru dirasakan oleh Acha Septriasa ketika menjalani syuting film Bangkit. Bukan karena karakter yang susah dan berbeda, namun dalam proses film, pemeran <B>Rectoverso<P> itu harus mengumbar imajinasi yang kuat. Pasalnya, film garapan Rako Prijanto ini sebagian besar menggunakan teknologi manipulasi gambar atau akrab disebut Computer Generated Imagery (CGI).

Di Hollywood, penggunaan CGI dalam skala besar sudah sering dilakukan. Namun di Indonesia teknik ini masih digunakan secara terbatas. Biasanya CGI sering digunakan oleh film-film bertema fiksi. Film <I>Bangkit<P> membutuhkan CGI karena menggambarkan kondisi Jakarta yang porak poranda karena bencana.

Saat syuting, Acha tak melihat kondisi bencana. ''Perlu daya imajinasi kuat juga dan perlu janjian sama pemain lain supaya bisa menghadirkan emosi dengan ritme yang sama,'' kata Acha Septriasa di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Senin (18/7).

Lewat film ini Acha juga merasakan pengalaman baru karena benar-benar berbeda dari film terdahulu. Ketika biasanya ada banyak dialog yang harus dihapal, namun dalam film <I>Bangkit <P>Acha hanya dituntut untuk berekspresi lebih. ''Saya juga baru pertama kali dikasih skrip dengan petunjuk aksi yang panjang dan dialog sedikit, tapi dari situ pengalaman baru buat saya,'' tukas Acha.

Film <I>Bangkit<P> bagi Acha merupakan pendobrak industri perfilman tanah air. Selama ini belum ada cerita tentang bencana yang diangkat oleh sineas Indonesia dengan sebagian besar menggunakan teknologi CGI. ''Ini merupakan <I>disaster movie<P> pertama di Indonesia yang pakai full CGI, hampir 1357 shot pakai teknik CGI. Tapi bukan cuma CGI aja andalannya. Cerita juga tentang edukasi, seperti tentang badan-badan negara yang membantu saat terjadi bencana kayak SAR, TNI, BMKG,'' tandas Acha Septriasa.

 

Hampir Lepas

Acha memerankan sosok dokter muda bernama Denanda. Ini pertama kalinya bagi Acha terlibat dalam film yang menceritakan tentang bencana alam, terlebih lagi menggunakan efek CGI. ''Ini film tentang kemanusiaan. Di sini karakter saya lebih peka dan peduli dengan sosial. Memang film ini hadir dan inspirasinya dari teman-teman yang hadir membantu saat bencana,'' ujar dia. ''Kaninga Pictures dan Oreima Films ingin bikin film tentang bencana karena bencana kan tiba-tiba datangnya dan menyerang siapa aja. Film ini juga ada edukasinya ketika ada bencana siapa sih yang harus ditolong duluan ketika kita dalam keadaan bencana.''

Acha bercerita bahwa sebenarnya, peran di film Bangkit ini sempat hampir dilepas lantaran jadwal syutingnya yang sempat mundur. Beruntung pihak produksi memundurkan kembali jadwal syuting dan berjodoh lagi dengan Acha. ''Kesempatan ini tadinya hampir meleset bukan saya yang main. Saya adalah <I>casting<P> terakhir. Pas saya dikasih <I>script<P>, oke saya bisa syuting tapi ketika dimundurin<I> schedule<P>-nya, saya nggak bisa syuting. Ternyata dari pihak PH (Production House) pengen mundurin syuting, dari situ jodoh lagi. Saya percaya karakter film bukan kita yang ngejar karena tiba-tiba aja bisa nggak jadi. Jadi karakter memilih perannya masing-masing,'' ungkap dia.

Di film terbarunya yang akan beredar serentak 28 Juli mendatang, Acha beradu akting dengan aktor top lain seperti Deva Mahendra, Vino G Bastian, dan Putri Ayudya.

 

Rp 12 Miliar

Sedangkan sutradara Rako Prijanto mengaku dirinya bertekad keluar dari zona nyaman saat menggarap film Bangkit!. ''Tantangan terberat adalah saat menyusun skenario. Saya harus semedi selama satu bulan sebelum menyerahkan naskah ini ke tim produksi,'' papar Rako.

Rako mengungkapkan, para pemain maupun kru terlihat shock ketika mengetahui naskah film yang ia sodorkan. ''Film ini memang cukup berat, sebab satu scene bisa dilakukan di empat sampai lima lokasi berbeda. Namun, setelah saya jelaskan <I>via story board<P> semua bisa menerima dan siap bekerja sama,'' urainya.

Proses yang tidak mudah itu pula yang membuat biaya produksi film yang didukung oleh Suryanation ini jadi cukup besar, yaitu lebih dari Rp 12 miliar. ''Semoga bisa memberi tontonan yang berbeda bagi masyarakat Indonesia,'' ucapnya tentang film yang digarap selama 100 hari itu.

Film produksi bersama Kaninga Pictures dan Oreima Films serta Suryanation mengisahkan kondisi Jakarta yang terkena dampak badai musim dingin di Asia dan badai panas di Australia. Hal ini membuat curah hujan menjadi tinggi dan mengakibatkan banjir.

 

(galuh/eko)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com